Jumat, 24 Juni 2011

Holidays Lesson

Diposting oleh Felix Stefany Sisvinda di 20.13
what do u think ?? 
0 komentar
 Liburan kali ini sangat menyenangkan. Hampir sekitar 2 bulan setelah kelulusan SMP saya libur. Di bulan Mei, kegiatan saya hanya di rumah walaupun terkadang jalan-jalan bersama teman se-geng. namun, di bulan Juni akhir ini, saya mengunjungi nenek saya yang berada di Tulungagung. Semua pengalaman dimulai dari sana.

 Entah mengapa saat saya berada di sana, mudah sekali rasanya untuk bangun pagi. Karena hal ini mungkin disebabkan rumah nenek saya yang berdampingan dengan rumah tante. Jadi semua kegiatan keluarga tante terdengr dengan cukup baik. Biasanya setip pagi salah satu tante saya juga mnyetel radio rohani setiap pagi yang sangat keras. Karena gangguan kedua hal ini, saya jadi anak rajin di sana walaupun bangun jam 7 pagi.  
Akhir-akhir ini salah satu tante saya sudah tidak melakukan kebiasan lamanya menyetel radio. Namun tetap saja terasa lebih waspada untuk bangun pagi di sana. 

Setiap pagi, tante saya selalu menyibukan dirinya untuk menyiapkan makanan dan mencuci baju para penghuni rumah. hal ini dikarenakan kami tinggal di desa dan belum mau memiliki mesin cuci. Suara kucekan itu tak pernah lepas dari telinga, apalagi suara air mengalir bekas cucian. Hari pertama di sana, baju saya masih dicucikan oleh tante. Di hari selanjutnya saya mulai sadar, kalau harus mandiri. Dengan maksud tidak menyusahkan orang lain selama bisa bekerja. Maka dari itu, di hari kedua walaupun saya bangun kesiangan. Saya langsung mandi, dan melihat tante tidak lagi menyucikan baju saya. Rasa sungkan pun mulai menyelimuti, saya beranikan untuk menyuci baju sendiri. Sialnya di hari ketiga dan selanjutnya, rasa malas merasuki kembali. Hingga harisaya akan pulang, baju yang baru saja saya cuci kemarin sore masih basah dan bau. Aduh, kena batunya juga..!! 

Hal lain yang juga membuat telinga saya terngiang-ngiang adalah salah satu cerita dari anggota keluarga saya yang lain. Sebelum itu, dia mengajak saya jalan-jalan ke puncak dan melihat waduk. Di sana pemandangannya sangat indah, hawanya pun sejuk. Lalu mulailah dia bercerita. Dulu dia bekerja menjadi perawat orang sakit dan hewan di luar negeri. Gajinya besar, dan fasilitas lengkap. dari pekerjaannya itu, ia bisa membeli apa pun yang diinginkan. Karena mungkin dirasa modalnya untuk berwirausaha sendiri sudah cukup, kembalilah dia ke Indonesia. Namun, di bagian cerita ini, terpampang raut muka yang menyedihkan. Ternyata dia lebih merasa nyaman saat berada di luar negeri. Katanya semua orang di sana cuek padanya. Saya jadi bingung mendengarnya, bukankah lebih enak berada di tanah air? dekat dengan orang-orang yang bakalan nggak pernah berhenti mencintai kita? "keluarga"

Sejenak, saya ingat umrnya sudah mencapai 30 ke atas dan belum kunjung menikah. Ahh, kenapa tidak dari tadi saya pikirkan. Karir dan cinta yang selalu berlomba. Hem, saya bingung harus berpendapat apa? karena saat ini saya masih menjadi murid. Saya hanya diam, dan berkata dalam hati "Mungkin ini yang dinamakan pilihan hidup." Ya, sebenarnya semua tindakan yang kita ambil itu ada sifat positif dan negatifnya. Pilihan hidup yang tergantung kita bukannya nasib. Apa mungkin suatu hari nanti saya menjadi seperti dia? sibuk berkarir, hingga melupakan jodoh?  tidak akan ada yang pernah tahu. Selama itu sesuai dengan jalan Tuhan dan menyenangkan banyak orang. Saya kira tidak apa-apa. Sekarang semua keputusan ada di tangan anda. Jangan lupa hal positif dan negatif juga dipikirkan ya? :)

Kamis, 09 Juni 2011

Your Time

Diposting oleh Felix Stefany Sisvinda di 18.33
what do u think ?? 
0 komentar
Human life on limits, because there are times that they have. The question is how we use our time wiser?

Senin, 06 Juni 2011

Judging People by The Cover

Diposting oleh Felix Stefany Sisvinda di 19.52
what do u think ?? 
0 komentar

“Kalau menurut saya, saya lebih suka cowok yang walaupun tampangnya pas-pasan namun dia mempunyai etika yang baik dan berpengang teguh pad agama. Lho saya serius ini, nggak bohong.” Ucap Agnes Monica penyanyi terkenal itu beberapa waktu yang lalu. Ungkapan Agnes sama dengan sebuah kata mutiara “Stop judging people by the cover!” Ya, saya sering sekali mendengar kata-kata itu dari beberapa teman. Mungkin kelihatannya itu sederhana, namun ternyata memiliki makna yang besar dan sangatlah sulit untuk dipaktekan.

Mendengar pepatah itu saat pertama kali, rasanya sangat menusuk. Seakan saya kembali kepada memori saya yang lalu ketika saya hanya mau perduli kepada teman cowok saya yang enak dipandang (Ganteng) daripada yang jelek. Padahal saya juga tak seberapa cantik. XP

Biasanya saat kita melihat seseorang dari luarnya akan terbenak juga dalam pikiran kita “Apa yang ada di luarnya mencerminkan apa yang ada di dalamnya.” Jika dia tampan hatinya pasti tampan, jika dia jelek hatinya pun ikut-ikutan jelek. Padahal mungkin itu semua salah. Bisa dibilang ini juga adalah salah satu bentuk diskriminasi. Orang yang mempunyai fisiklebih baik akan lebih dihargai daripada mereka yang jelek, pendek, berkulit kusam, cacat dan lain-lain.
Manusia itu seperti apel. Apel harus dikupas terlebih dahulu untuk tahu rasa manis atau asam yang terkandung di dalamnya. Selebihanya, jika apel belum dikupas, itu tidak akan berarti apa-apa. Apel yang merah dan mlus belum tentu memiliki rasa yang manis, begitu juga sebaliknya pada apel dengan kulit kusam. Pada dasarnya semua apel itu sama saja, hanya kulit luarlah yang beda. Begitu kita lihat dagingnya semuanya sama saja, dan ujung-ujungnya rasa yang palig manislah yang kita cari. Sama kan seperti manusia? Manusia pada intinya sama saja, tidak ada yang lebih baik atau buruk. Yang tampan belum tentu lebih baik daripada yang biasa saja. Karena pada ujungnya yang kita cari adalah kebahagiaan rohani yang kita dapat dari orang-orang tersebut.

Saya tidak akan langsung berkata yang cantik belum tentu bersifat baik, dan yang jelek biasanya berperilaku lebih baik. Sebenarnya, saya hanya ingin mengajak bagi kita yang belum menghargai orang lain dengan sepenuh hati. Untuk lebih memandang orang lain dengan adil,untuk lebih menghargai orang lain bukan karena dia cantik atau tampan. Namun, lebih menghargai orang-orang di sekitar kita karena kita sama-sama manusia. Diciptakan untuk hidup bersama dan saling menghargai.Dan hal ini juga berlaku di bidang apa pun. Seperti status, ekonomi, umur,gender, dan yang lainnya. Mulai sekrang, mari belajar menghargai orang lain bukan hanya dari tampilan fisik, namun dari hati, dan yang terutama karena kita sama-sama manusia yang saling membutuhkan satu sama lain.

Pain of Love

Diposting oleh Felix Stefany Sisvinda di 19.43
what do u think ?? 
0 komentar
Tebak apa yang akan saya tulis malam ini. Malam ini saya akan bercerita tentang teman laki-laki saya yang baru putus cinta. 

Mungkin hal ini sudah sering kalian dengar ketika sepasang pasangan memutuskan hubungannya, hal pertama yang keluar dari mereka adalah air mata. Kadang saya berpikir , seberarti apakah pasangan mereka hingga air mata itu keluar. Walaupun memang saya akui saya juga menangis saat saya merasa tidak dianggap oleh laki-laki yang saya kagumi. Rasanya abstrak, tak bisa dijelaskan. Namun dada kita akan terasa sangat sesak saat itu. Rasanya hidup itu sudah tidak berarti. Dan semua yang akan kita kata katakan, ucapkan, bahkan lakukan, itu semua tak sesuai apa yang otak kita perintahkan. Ini semua akibat Pain of Love. Perasaan tak dihargai, perasaan menjadi orang tak berguna, perasaan bahwa diri kita adalah hal terburuk yang pernah ada.
Semua yag ada di pikiran kita hanyalah tentang cinta kepada seorang wanita atau pria tersebut.
Bahkan ada orang yang sampai bunuh diri karena tidak sanggup menahan rasa sakit hati yang tiada taranya itu. Ada pula seorang wanita yang menetapkan hidupnya bahwa ia dapat hidup tanpa seorang pria. Dan akhirnya dia tetap menjadi single ladies atau perawan tua sebutan di Negara kita. Wanita seperti mereka akan terus mencoba hidup mandiri setiap harinya .

Memang hal yang satu ini memiliki sisi positif dan negative. Itu semua tergantung bagaimana cara kita melihat, dan dari mana kita memandang. X)
Kenapa ya tidak terpikirkan oleh kita untuk menitihkan air mata saat ditinggal pergi salah satu anggota keluarga kita. “Lebih baik dicintai atau mencintai?” pertanyaan ini akan menjawab semua keingintahuan kita tentang rasa sakit hati dan keperduliaan pada orang yang kita cintai atau mencintai kita.

Tidaklah smudah apa yang saya tulis di sini untuk melakukan hal yang benar. Semua renungan akan selalu berputar. Bagaimana caranya keluarga menjadi hal yang pertama dalam kehidupan kita di dunia. Namun jangan lupakan Tuhan, Karena dia yang utama dari yang pertama.

Marilah saat ini kita bersyukur , karena masih da seorang Ibu yang memasak di rumah, seorang Bapak yang bekerja di kantor, dan seorang kakak yang sibuk dengan kuliahnya. Namun, perhatian dan cinta mereka takan pernah habis. Karena ikatan keluarga itu seperti tattoo permanen.
Mulai sekarang, jika kita patah hati, janganlah berpikir tidak ada lagi yang perduli pada diri kita yang kecil ini. Karena masih ada keluarga yang setia menemani sampai akhir hayat. Dan masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menebarkan cinta for hopeless person out there. Dibanding menangisi diri kita sendiri tanpa sebab. Karena seharusnya kita dua kali bersyukur, Tuhan telah memberi tanda bahwa ia bukan orang yang pantas untuk kita, sebelum janur kuning berdiri.

Harapan dan Syukur

Diposting oleh Felix Stefany Sisvinda di 19.27
what do u think ?? 
0 komentar

Mengharapkan sesuatu yang mustahil sama dengan mengharapkan manusia yang telah mati itu hidup kembali. Masihkah ada harapan? Walaupun nyawa Cuma tinggal udara yang kita hirup atau tanah yang kita injak. Tiada artinya memang jika hidup tanpa harapan. Tapi semut saja masih terus berusaha hidup walaupun hanya dengan 1 hembusan nafas manusia dia bisa mati. Bagaimana dengan aku.. “I’m not made of jell-o..” (*Bee Movie*) ya kita emang nggak terbuat dari jelly, yang bisanya Cuma diem ..kita itu nyawa..sekalipun tak ada yang memandang,, tidakkah kita ingin memandang diri kita sendiri di depan kaca..mengucapkan betapa cantiknya, tampannya, bahkan sempurnanya ciptaan Tuhan yang satu ini dibandingkan ciptaan Tuhan lainnya. Kalau aku, kebiasaanku selalu bertanya kenapa dia, dia, dan dia tak memperdulikanku.. semuanya telah kulakukan.. dan yang terakhir “Orang pertama yang paling memerdulikan aku hanya Tuhan dan diriku sendiri..lainnya..??” bagaimana dengan keluarga..dan ternyata hanya satu kunci akhir yang belum dipahami makhluk yang memiliki akal budi ini, “Syukur”
Betapa sulitnya menjadi manusia, hidung masih dibebani bagi yang memakai kacamata, tubuh masih ditopang tongkat yang sakit bagi yang cacat, dan mulut masih memakan radiasi bagi orang era baru kini. Sialnya lagi masih harus bersyukur. Apa sebenarnya bersyukur itu? Apakah dia makanan yang bisa membuat mataku terlepas dari kacamata, atau membuat yang cacat bisa berjalan, membuat yang bisu dapat berbicara??
Bersyukur itu seperti saat kita melihat kota malang dari atas gedung tinggi. Semuanya terlihat. Dan betapa kecilnya kita? Kalau gedung ini runtuh, bukankah hanya kurang dari sedetik kita sudah mati? Namun semuanya tidak seperti apa yang kukatakan , semuanya selalu tampak baik. Meskipun saat kita di atas gedung semuanya terlihat kejam.  “Apa yang kau lihat?” Tanya Bapa. “Kendaraan..” “Bukan, satu hal  yang paling menyiksamu..” “Penderitaan..” “Tolong sebutkan ankku..kaena aku tak dapat melihatnya..kau lupa jika aku buta??” ya ampun, bahkan aku terlalu sibuk dengan kesedihanku sampai melupakan Bapaku yang buta. Dimana lebih menderita disbanding aku yang masih bisa menatap kebahagiaan dan penderitaan di atas gedung ini. “Bapa di sana ada orang buta seperti Bapa, lalu ada yang tuli, bisu, miskin, sekarat, lumpuh, dan …” “Kenapa anakku?” “Ada satu anak duduk sendirian di tengah jalan mengulurkan tangannya, aku rasa dia membutuhkan uang.” “Iya anakku aku bisa melihat…yang dia butuhkan hanya harapan..” “Bapa?! Bapa bisa melihat..?? “ Bapa terdiam. “Lalu bagaimana harapan itu muncul?” “Bersyukur..” Jika makhluk paling indah sedunia ini selalu mngemis harapan. Betapa malunya aku jika seekor semut mngetahui ini. Ternyata “Syukur” itu bukan hanya seperti saat kita berada di gedung tinggi melihakotamalang. Namun memahami arti itu sebenarnya, melihat sesuatu diluar yang lebih menyakitkan ibanding kita. Dan semuanya terlihat begitu jelas saat aku duduk bersama Bapa di atas gedung tanpa atap itu. Aku malu juga ternyata harapan itu ada karena rasa syukur. Padahal rasa syukur adalah rasa yang paling aku benci…aku ingin agar selalu lebih setiap waktu berjalan..inikah jawaban atas kemurunganku? Inikah jawaban atas ketidakberdayaanku? “We are not made of jell-o..we are bee, we are worker..worker together..that’s our life!” (*BEE MOVIE
 

Lixx.. Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei